“Dianka,” ujar sosok itu. Sekilas aku melihatnya berdiri dengan kopi di tangan dan koper hijau tua penuh stiker di sampingnya. Aku tidak begitu melihatnya dengan jelas, tapi aku tahu bahwa itu koper kesayangannya. Koper yang pernah menjadi perdebatan kita karena stickernya menurutku terlalu ramai tapi menurutnya justru itu seninya.
"BIAN! Bi-"
Semua terhenti dan menjadi buram saat akhirnya aku tersadar kembali.
"Dianka," tangisku makin menjadi. Aku terbangun dengan Dito disampingku yang baru menyadari bahwa aku tertidur sambil menangis. Dito yang seakan sadar apa yang terjadi langsung mengusap dan memelukku. "Kamu mimpi lagi ya?"
"Bian, To..." kataku masih belum sepenuhnya sadar.
"Bian udah tenang disana, Di."
Tangisku makin menjadi, ditengah keramaian aku tidak peduli. Dito pun mengerti. Bahwa kali ini aku benar-benar meluapkan rindu dan pedihku.
Stay up late to see the stars
Marathon MCUColdplay's concert @SG
Aku tidak mampu berkata. Untuk beberapa detik—yang terasa seperti beberapa jam—aku masih kaku. Saat kusadari mata orang-orang di toko kopi ini sudah menatapku heran karena membiarkan jatuhnya kopi membasahi baju dan koperku, aku tersadar dan dibantu oleh seorang barista yang baru datang, aku membersihkan barang dan bersiap untuk pergi.
Tidak. Bisa jadi aku salah dengar.
Aku langsung beranjak pergi tanpa melihat orang itu. Saat ku kira aku benar salah dengar, untuk sekali lagi ia memastikan aku bahwa itu betul dirinya.
"Ka," panggilnya. Hanya dia yang memanggilku itu. Akhirnya aku berhenti tepat disebelahnya, dan menatap dia.
Tidak. Bisa jadi aku salah dengar.
Aku langsung beranjak pergi tanpa melihat orang itu. Saat ku kira aku benar salah dengar, untuk sekali lagi ia memastikan aku bahwa itu betul dirinya.
"Ka," panggilnya. Hanya dia yang memanggilku itu. Akhirnya aku berhenti tepat disebelahnya, dan menatap dia.
“Bian?” kataku perlahan, memastikan sosok itu adalah orang yang selama ini aku cari. Tak sadar, dua tahun mencari tanpa tahu dimana keberaadaannya membuatku masih kaget tak percaya.
Bian dan aku sama-sama menyukai kopi. Hampir semua coffee shop pernah kami datangi hingga larut malam. Tempat ternyaman saat itu adalah dimana ada kopi dan dia. Terkadang kita akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, terkadang kita bercanda dan membahas semua topik yang tak ada hentinya. Saat itu, I can't ask for more.
—
Beberapa saat kemudian kita berada di kursi panjang dekat pintu keberangkatan. Kita duduk bersebelahan, membiarkan koper kita hanya berdiri disamping kita, menyaksikan kebisuan yang mencekam.
"Kamu sendiri?" tanyaku memecah suasana.
"Sendiri."
Tiba-tiba hujan turun dengan lebat dihadapan kita. Orang-orang tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing di bandara. Tapi, dengan adanya Bian di sampingku membuat sekelilingku seakan buram. Bahkan hujan pun seakan tak terdengar.
"Dua tahun aku cari kamu Bi."
Dia diam. Wajahnya menunjukkan rasa bersalahnya, lalu dia memperhatikanku.
"I saved up. Dua tahun setelah kamu pergi, membawaku kesini, Bi. I'm going to Manchester."
Masih tanpa kata, ia memalingkan wajah dan membiarkan air mata menetes dari matanya. Membuatku tak mampu lagi membendung air mata pula.
"Aku mewujudkan sebagian mimpi kita,"
"Dianka.."
"Tapi aku gak bisa mewujudkan ini semua tanpa kamu, Bi. Gak bisa," aku masih berusaha menahan semua emosi atas kepergiannya. Tapi akhrinya, semua yang kupendam selama dua tahun, semuanya menguap disini. Di hadapan hujan yang pernah terlihat indah pada masanya.
Aku tidak peduli dengan jadwal keberangkatanku, tidak peduli dengan tatapan orang, yang aku rasakan adalah rasa tidak percaya bahwa Bian benar-benar ada di sampingku.
"Temani aku, Bi."
"Dianka, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Tapi aku pernah sayang, masih sayang, dan akan selalu sayang sama kamu, Ka. Dimanapun kamu berada, kapanpun itu, aku akan terus ada di sampingmu."
Tangisku makin menjadi, kini ia mengusap air mataku, lalu berjalan mundur ke arah hujan. "Jaga kesehatanmu, Ka. Jangan lupa meletakkan jam tanganmu terus."
Ia makin menjauh, saat aku mau menghampirinya, ia sedang berjalan menyebrang jalanan Bandara Soekarno-Hatta dan..
"Sendiri."
Tiba-tiba hujan turun dengan lebat dihadapan kita. Orang-orang tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing di bandara. Tapi, dengan adanya Bian di sampingku membuat sekelilingku seakan buram. Bahkan hujan pun seakan tak terdengar.
"Dua tahun aku cari kamu Bi."
Dia diam. Wajahnya menunjukkan rasa bersalahnya, lalu dia memperhatikanku.
"I saved up. Dua tahun setelah kamu pergi, membawaku kesini, Bi. I'm going to Manchester."
Masih tanpa kata, ia memalingkan wajah dan membiarkan air mata menetes dari matanya. Membuatku tak mampu lagi membendung air mata pula.
"Aku mewujudkan sebagian mimpi kita,"
"Dianka.."
"Tapi aku gak bisa mewujudkan ini semua tanpa kamu, Bi. Gak bisa," aku masih berusaha menahan semua emosi atas kepergiannya. Tapi akhrinya, semua yang kupendam selama dua tahun, semuanya menguap disini. Di hadapan hujan yang pernah terlihat indah pada masanya.
Aku tidak peduli dengan jadwal keberangkatanku, tidak peduli dengan tatapan orang, yang aku rasakan adalah rasa tidak percaya bahwa Bian benar-benar ada di sampingku.
"Temani aku, Bi."
"Dianka, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Tapi aku pernah sayang, masih sayang, dan akan selalu sayang sama kamu, Ka. Dimanapun kamu berada, kapanpun itu, aku akan terus ada di sampingmu."
Tangisku makin menjadi, kini ia mengusap air mataku, lalu berjalan mundur ke arah hujan. "Jaga kesehatanmu, Ka. Jangan lupa meletakkan jam tanganmu terus."
Ia makin menjauh, saat aku mau menghampirinya, ia sedang berjalan menyebrang jalanan Bandara Soekarno-Hatta dan..
"BIAN! Bi-"
Semua terhenti dan menjadi buram saat akhirnya aku tersadar kembali.
"Dianka," tangisku makin menjadi. Aku terbangun dengan Dito disampingku yang baru menyadari bahwa aku tertidur sambil menangis. Dito yang seakan sadar apa yang terjadi langsung mengusap dan memelukku. "Kamu mimpi lagi ya?"
"Bian, To..." kataku masih belum sepenuhnya sadar.
"Bian udah tenang disana, Di."
Tangisku makin menjadi, ditengah keramaian aku tidak peduli. Dito pun mengerti. Bahwa kali ini aku benar-benar meluapkan rindu dan pedihku.
--------
Dianka & Bian's to do list
.
.
Getting married in Manchester
--------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar