Selasa, 16 April 2019

(1) Dua tahun

Bandara selalu menjadi drama dalam hidupku. Bukan karena sesuatu pernah terjadi di tempat yang tak pernah tidur ini, melainkan image-nya membuatku selalu ingin mengarang sebuah cerita disini. Gemas, tidak ada tempat ter-imaginable selain di bandara, well, meskipun begitu khayalan-ku tetap ku tinggal dimanapun sih.

Menurut sumber yang kubaca, Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara terbesar di Asia Tenggara dan salah satu bandara tersibuk di dunia. Saat ini kopi didepanku mungkin bisa berkata iya, saat masih menjadi biji kopi, ia menyaksikan banyak orang lalu lalang, mengantre di depan kasir, bercanda ria menunggu keberangkatan, atau bahkan sedang resah menunggu yang tak kunjung datang. Kini, di depanku, dengan wujud yang berbeda pun ia menjadi saksi menjelang kepergianku dari kota ini, kota yang membesarkanku dan membantu mewujudkan mimpiku untuk pergi ke lain bandara.

Masih ada beberapa waktu tersisa sebelum keberangkatan pesawatku menuju Manchester. Sengaja ku datang jauh sebelum jam keberangkatan, hanya untuk menikmati Jakarta dari tempat ini, bandara ini. "Ngeyel deh, aku bilang mending tidur dulu tadi daripada kamu capek duluan nungguin boarding," omelnya melihatku yang secara tidak sadar menguap lebar.

Aku hanya tersenyum lebar dan mencoba kembali fokus menulis. Fokusku kembali bubar saat melihat jam di laptop. “To! Kamu gak ketemu client?”

“Oh my God, I better leave now. Hey, Di. Kamu gapapa sendiri?” katanya sembari sibuk merapihkan barangnya. 

“I’m okay, kamu langsung aja, aku masih harus charge laptop.”

Setelah sibuk meng-introgasi apakah aku sudah membawa semua yang kubutuhkan, Dito pergi.

From: Dito
I’ll miss you, Di. Promise to call me everyday and i’ll see you around in next 2 weeks xoxo

Aku terima pesan darinya saat aku sudah bersiap untuk pergi dari tempat itu. Tak lama setelah itu, kopiku tergelincir dari tanganku saat aku mendengar seseorang lain memanggilku.

"Dianka?"

Kopi, si saksi kepergian ku dari Jakarta itu kembali menjadi saksi, tentang awal dari sebuah mimpi lain.

Bandara tak lagi hanya menjadi tempat berhayal tentang drama. Ini nyata. Dunia seakan berhenti berputar dan memori tentangnya seakan kembali terputar. Aku terbeku dan bisu, di tengah keramaian bandara, saat suara dari 2 tahun lalu kembali hadir.

“Dianka...” ucap sosok yang berdiri tak jauh dariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Bertemu Lagi

This is part 2 of "Dua Tahun".